Chips Salak

Chips Salak Khas Tabanan merupakan produk unggulan Kelompok Wanita Tani Lantang Semu. Makanan ringan yang terbuat dari bahan segar alami Salak Bali.

Selengkapnya

Mengenal Buah Mengkudu

TUMBUHAN Mengkudu (Morinda Citrifolia) sudah sejak lama dikenal oleh masyarakat Indonesia. Tumbuhan berbuah kuning pucat tersebut bisa ditemui di berbagai daerah.

Selengkapnya

Bupati Tabanan Panen Manggis di Galiukir

Bupati Tabanan N Adi Wiryatama melaksanakan panen manggis yang bertempat di Galiukir, Pupuan pada Sabtu. Panen manggis ini juga dihadiri oleh Sekda Tabanan,...

Selengkapnya

PELAKSANAAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IbM PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN PRODUK PERKEBUNAN BUAH MANGGIS BAGI KELOMPOK TANI LANTANG SEMU BANJAR GALIUKIR KAJA

Kamis, 14 September 2017

PELAKSANAAN KEGIATAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT IbM PENGEMASAN DAN PENYIMPANAN PRODUK PERKEBUNAN BUAH MANGGIS BAGI KELOMPOK TANI  LANTANG SEMU BANJAR GALIUKIR KAJA
Oleh :
Tim dari Politeknik Negeri Bali
Anggota Tim:
Dr.Eng. I Gusti Agung Bagus Wirajati, ST, M.Eng.
I Dewa Made Cipta Santosa, ST.,M.Sc, PhD
Made Ery Arsana, ST, MT.
Luh Putu Ike Midiani, ST, MT

A.   Potensi Produksi  Manggis Galiukir
Banjar Galiukir Kaja termasuk dalam wilayah Desa Kebonpadangan, Kecamatan Pupuan, Kabupaten Tabanan, Provinsi Bali. Desa Kebonpadangan merupakan daerah dataran tinggi dengan curah hujan yang tinggi pula. Luas wilayah desa Kebonpadangan adalah 15,1322 Km, memiliki ketinggian 60-700 meter diatas permukaan laut dengan topografi yang berbukit-bukit.
Dengan didukung oleh lahan pertanian yang besar, yaitu sekitar 92% dari total penggunaan lahan desa, penduduk Galiukir menggantungkan hidup pada sektor perkebunan dan pertanian. Sektor andalan dari perkebunan ini adalah perkebunan kopi, coklat, cengkeh, kelapa, dan tanaman keras lainnya seperti durian, manggis, dan lain-lain. Dan saat ini sektor yang sedang dikembangkan dan cukup menjanjikan adalah perkebunan manggis.
Tanaman Manggis memiliki predikat sebagai “Queen of fruit”. Buah manggis merupakan tanaman buah tropik eksotik, memiliki keindahan warna dan kenikmatan rasa sehingga menjadi daya tarik bagi konsumen luar negeri. Manggis banyak mengandung kalori dan vitamin C, selain itu mengandung protein buah dan karbohidrat. Dengan segala kelebihan tersebut, buah manggis memiliki pangsa pasar konsumen lokal  dan ekspor yang tinggi. Sehingga perlu adanya perlakuan yang baik terhadap tanaman buah manggis ini, baik itu dari pemeliharaan sampai pasca panen untuk meningkatkan mutu dan produksi.




Gambar 1. Sekretariat Kelompok Tani Lantang Semu

Pada saat panen raya, jumlah produksi manggis di wilayah kelompok tani mencapai rata-rata 4 ton perhari. Disaat puncak panen ini harga buah manggis akan mengalami penurunan. Meski harga anjlok, petani tetap menjual hasil panennya karena buah manggis tak bisa disimpan lama. Hasil panen buah manggis ini biasanya dijual pada para tengkulak yang datang ke kebun. Hal ini tentu sangat meresahkan petani, yang mana seharusnya petani mendapatkan hasil penjualan yang baik disaat panen, namun kenyataannya para petani mendapatkan harga yang terendah disaat puncak panen buah manggis.
Untuk meningkatkan kesejahteraan anggota petani melalui kegiatan usaha tani dan pemasaran hasil serta meningkatkan rasa kebersamaan dan gotong-royong, maka dibentuklah  kelompok tani Lantang Semu. Hingga saat ini kelompok tani Lantang Semu telah  beranggotakan 20 orang petani. Tanggung jawab kelompok tani ini adalah sebagai motor penggerak bagi petani, tetap berusaha mencari pasar demi kelancaran produksi hasil pertanian yang ada di wilayah kelompok.




Gambar 2. Aktivitas petani manggis setelah panen

Secara nasional kabupaten Tabanan merupakan pengahasil manggis yang terbesar, namun dari segi persentase kualitas produksi, Tabanan masih kalah jauh jika dibandingkan dengan Sukabumi. Karena dari total produksi buah manggis yang ada di Tabanan, baru 10%-nya saja yang bisa diekspor karena masalah kualitas, sedangkan Sukabumi (Jawa-barat) dari total produksinya, 90% nya sudah bisa diekspor. Selama ini daerah tujuan ekpor buah manggis adalah Beijing, Guangzhou, Saudi Arabia, dll dengan total ekspor per tahun 450 ton/tahun yang diambil dari daerah Selbar dan Pupuan, sedangkan untuk Propinsi Bali sekitar 800 ton/tahun.
Namun pasar ekspor ini akan terganggu jika petani tidak menjaga kualitas panen buah manggis ini. Buah manggis ini hanya mampu bertahan selama 3-4 hari. Bila lebih dari itu, buah manggis kurang baik kualitasnya. Kualitas buah manggis setelah panen dapat dipertahankan dengan penanganan pasca panen yang baik. Hal ini dilakukan dengan harapan meningkatkan nilai jual buah manggis tersebut dipasaran. Salah satu kegiatan dari penanganan pasca panen, yaitu pengemasan dan penyimpanan pada suhu rendah. Pengemasan dilakukan dengan baik bertujuan untuk mempermudah kegiatan transportasi buah manggis hingga sampai ke tangan konsumen dan melindungi serta mempertahankan kualitas buah manggis, sebab selama transportasi terjadi beberapa kerusakan mekanis yang dapat menurunkan kualitas dan daya simpan buah manggis.

B.     Permasalahan Pasca Produksi
Dengan adanya kendala buah manggis yang tidak mampu mempertahankan kesegarannya bila lebih dari 3-4 hari, menyebabkan petani harus mengalami kerugian saat puncak panen, sedangkan waktu panen adalah waktu yang sangat ditunggu oleh para petani.
Permasalahan untuk menjaga dan mempertahankan kualitas buah manggis dicoba dilakukan agar petani tidak mengalami kerugian di saat puncak panen. Setelah jangka waktu tertentu diharapkan petani tetap dapat menjual buah manggis ini dengan kualitas yang masih baik.  Perlakuan yang dilakukan adalah menjaga agar tidak terjadi proses oksidasi pada buah manggis, yang mana proses oksidasi inilah yang menyebabkan buah manggis menurun kualitasnya. Agar tidak terjadi proses oksidasi ini, buah manggis hasus dikemas dengan cara menyuntikkan nitrogen pada kemasannya. Penyuntikan nitrogen ini hanya akan menghilangkan oksigen dalam kemasan buah manggis, nitrogen tidak akan meracuni buah manggis. Setelah pengemasan inilah selanjutnya buah manggis dapat disimpan di tempat penyimpanan bertemperatur rendah untuk mengurangi laju respirasi pada buah manggis. Dengan dua langkah perlakuan ini buah manggis akan dapat mempertahankan kesegarannya.
Dengan memperlakukan kedua proses ini pada buah manggis, untuk kedepannya penjualan buah manggis tidak saja dapat memenuhi pasar lokal, namun sudah dapat memenuhi pasar ekspor yang selama ini tidak stabil.
Pemasaran untuk pasar ekspor pun dapat dilakukan secara mandiri oleh kelompok tani ini melalui media online. Di saat ini pemasaran online lebih mudah, cepat dan dapat memangkas biaya-biaya administrasi yang dikenakan selama ini bila melalui pengepul atau tengkulak.

C.    Prosedur dan Pelaksanaan Penyimpanan Manggis 

Prosedur penyimpanan buah manggis segar dengan pendinginan dan perlakuan tertentu ditentukan sebagai  berikut : 
a.       Pengemasan dengan penambahan nitrogen
Kelompok tani diberikan pelatihan teknik pengemasan buah manggis dengan menyuntikkan nitrogen. Kelompok tani akan lebih mandiri dan tidak perlu bergantung pada tengkulak atau pengepul untuk memasarkan buah manggisnya. Kelompok tani tidak perlu takut kalau buah manggis akan cepat rusak, karena telah mendapat pengetahuan tentang pengemasan ini.
b.      Tempat penyimpanan dengan temperatur rendah
Dengan memberi bantuan tempat penyimpanan dengan temperatur rendah atau lemari pendingin, produk buah manggis akan dapat bertahan lebih dari 4 minggu, sehingga petani tidak perlu terburu-buru menjual buah manggisnya dengan harga rendah pada para tengkulak atau pengepul.
c.       Perangkat pemasaran online
Perangkat pemasaran online akan membantu kelompok tani untuk memasarkan buah manggis ini lebih mudah, murah dan cepat. Kelompok tani dapat langsung berinteraksi dengan konsumen, jalur pemasaran akan lebih ringkas yaitu dari produsen langsung ke konsumen sehingga harga buah manggis tetap stabil dan petani tidak mengalami kerugian karena permainan harga buah manggis oleh tengkulak atau pengepul.

Pelaksanaan aktivitas pengabdian kepada masyarakat melalui program Iptek bagi Masyarakat dimulai dengan sosialisasi sebagai upaya pendekatan antara pelaksana dengan masyarakat petani manggis di Desa Galiukir dengan harapan akan terjalin hubungan kerja yang baik yang dilandasi oleh kepentingan yang sama yaitu untuk meningkatkan kualitas buah manggis hasil panen serta mengembangkan jaringan pemasaran sehingga akan mampu memberi nilai tambah bagi petani manggis.
Teknologi tepat guna memiliki ciri utama yaitu berbahan lokal, bisa dilakukan oleh tenaga terlatih dilokal tersebut, dan memiliki nilai tambah bagi usaha lainnya. Teknologi tepat guna dibidang ini sebagian sudah menyangkut ciri-ciri tersebut, yakni bernilai teknik, ergonomis, berbudaya dan bernilai sosial.  Dalam penilaian teknik ada pada pemanfaatan skill atau teknik-teknik pengemasan dan penyimpanan buah manggis. Dalam hal ini nilai ekonomis juga tergantung di dalamnya dimana penerapan teknologi pengemasan dan penyimpanan buah manggis sangat sederhana dan sangat mudah untuk menggunakannya. Melalui penerapan inilah petani buah manggis akan lebih praktis dan lebih simple dalam mengerjakan pekerjaan tersebut. 







No
Aspek
Luaran Terukur Yang Diharapkan
Sebelum Program
Sesudah Program
1
Proses pengemasan dan penyimpanan buah manggis
Tanpa pengemasan dan penyimapanan yang baik
Melakukan pengemasan dan penyimpanan dengan metode baru
2
Kwalitas buah manggis
Cepat busuk
Lebih tahan lama
3
Nilai Ekonomis
Waktu penyimpanan pendek
Waktu penyimpanan lebih lam
4
Pemasaran
Tradisional
Online dan jaringan pemasaran yang lebih luas

Luaran utama dari IbM ini adalah terciptanya mesin penyimpan buah manggis dengan sistem refrigerasi, manajemen pemasaran, dan pengelolaan keuangan yang lebih baik.
  
Berikut adalah dokumentasi kegiatan yang telah dilakukan  di lokasi Kolompok Tani Lantang Semu.  
 Gambar4.1
Foto bersama masyarakat pengguna mesin penyimpanan buah manggis







Gambar 4.2
Foto instalasi mesin penyimpanan buah  manggis




Gambar 4.3
Foto modifikasi penambahan alat ukur pada mesin penyimpanan buah  manggis


D.    Hasil Penyimpanan Manggis dengan prosedur yang ditetapkan 


Photo-photo hasil penyimpanan






Manggis Hanya Untuk Pasar Lokal

Minggu, 07 April 2013



Walaupun tidak termasuk panen raya, jumlah produksi manggis di wilayah kelompok mencapai rata-rata 4 ton perhari, di bulan Pebruari–Maret kemarin. Semua produksi manggis ini hanya dipasarkan ke pasar lokal. Hal ini disebabkan berhentinya ekspor manggis khususnya ke China, yang merupakan negara pengimpor manggis terbesar. Hal ini menyebabkan harga manggis ditingkat petani menjadi tidak stabil.

Kelompok Lantang Semu sempat packing manggis yang bekerjasama dengan STA Sari Buah namun tidak bisa berjalan, karena berhentinya pasar ekspor.

Tanggung jawab Kelompok sebagai motor penggerak bagi petani tetap berusaha mencari pasar demi kelancaran produksi hasil pertanian yang ada diwilayah kelompok.


Sekretariat :
Br. Galiukir Kaja, Desa Kebonpadangan, Kecamatan Pupuan
Tabanan - Bali 82163.
Subscribe via Email